Sutarsono, Fitri Sartika (2026) Hubungan Paparan Media Sosial dengan Risiko Body Dysmorphic Disorder pada Remaja Putri di Sekolah Menengah Pertama Jakarta. Other thesis, STIKES RS HUSADA.
COVER.pdf
Restricted to Registered users only
Download (1MB)
BAB 1.pdf
Restricted to Registered users only
Download (176kB)
BAB 2.pdf
Restricted to Registered users only
Download (327kB)
BAB 3.pdf
Restricted to Registered users only
Download (181kB)
BAB 4.pdf
Restricted to Registered users only
Download (505kB)
BAB 5.pdf
Restricted to Registered users only
Download (189kB)
BAB 6.pdf
Restricted to Registered users only
Download (183kB)
BAB 7.pdf
Restricted to Registered users only
Download (161kB)
DAFTAR PUSTAKA.pdf
Restricted to Registered users only
Download (316kB)
LAMPIRAN.pdf
Restricted to Registered users only
Download (2MB)
Abstract
Remaja merupakan kelompok yang paling aktif menggunakan media sosial, namun juga rentan terhadap dampak negatif dari paparan konten visual yang menampilkan standar kecantikan tidak realistis. Salah satu dampak psikologis yang dapat timbul adalah Body Dysmorphic Disorder (BDD), yaitu gangguan mental yang ditandai dengan ketidakpuasan berlebihan terhadap penampilan fisik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara paparan media sosial dengan risiko BDD pada remaja putri kelas 9 pada salah satu SMP Negeri di Jakarta. Metode yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain korelasional dan pendekatan cross-sectional, dengan sampel sebanyak 110 siswi yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner intensitas penggunaan media sosial dan gejala BDD yang dianalisis menggunakan uji Spearman Rank. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara paparan media sosial dan risiko BDD (ρ = 0,200; p = 0,036), meskipun korelasi tergolong lemah, namun tetap relevan secara klinis. Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi paparan media sosial, maka semakin tinggi pula risiko remaja mengalami BDD. Oleh karena itu, diperlukan intervensi preventif seperti literasi media, edukasi kesehatan mental, serta dukungan psikososial di sekolah untuk menurunkan risiko gangguan citra tubuh.
